Semarang (MDC)
Bisakah melatih orang awam yang belum bisa berenang kemudian menjadi bisa menyelam hanya dalam sehari? Bukan menyelam tanpa alat, tetapi benar-benar menggunakan alat lengkap, mulai dari masker, fin, snorkel, hingga tabung. Dan orang awam itu mampu beradaptasi dengan nyaman di dalam air di kedalaman dua meter. Penyelam sangat pemula — maklum dari orang awam beneran — ini mampu menikmati penyelaman dangkal itu dalam waktu 20 menit, nonstop!!!
Dan itu terjadi pada Minggu (22/3/2009) lalu di Kolam Renang Kodam IV/Diponegoro di Watugong, Semarang. Empat penyelam pemula, semuanya wartawan, menjadi empat sekawan yang sangat berani untuk bisa menjadi penyelam. Padahal, kemampuan renang mereka sebenarnya juga masih NOL.
“Terus terang saya tidak percaya. Tapi saya yang melatih sendiri jadi mau tidak mau harus mempercayai kenyataan ini. Saya mampu melatih perenang pemula menjadi penyelam. Sungguh pengalaman berharga yang tidak saya bayangkan sebelumnya,” kata Andrianus.
Empat sekawan super nekad itu adalah Mas Hari (Kompas), Mbak Lina (Bisnis Indonesia), Mbak Fiska (Suara Merdeka), dan Iyan (Radio Imelda). Sebenarnya ada lima wartawan yang ingin menjadi penyelam pemula hari itu, akan tetapi Mas Wendra (Kompas) terpaksa tidak bisa bergabung karena tugas liputan mendadak.
Ide gila itu awal mulanya berasal dari Mas Herdjoko (The Jakarta Post).. Wartawan ini memang punya tekat besar untuk bisa menyelam sejak MDC mengajak dia untuk meliput reefcheck di Kepulauan Karimunjawa pada November 2007 silam. Dia bercerita, meski bisa berenang, akan tetapi belum pernah sekalipun memegang peralatan selam.
Meski begitu, pada penyelaman pertama, wartawan The Jakarta Post ini langsung berani menceburkan diri ikut menyelam. Berhasil? Belum juga. Dia hanya bisa menyelam pada kedalaman tiga meter. Itu pun dia tidak bisa melakukan equalizing meski sudah mendapat teori dan ia praktekkan di kedalaman dua meter.
Telinganya merasa tidak mampu diajak menyetarakan dengan tekanan air. Mungkin memang belum pernah menyelam dan mendapat pelajaran menyelam itu. Wita, salah satu anggota MDC pun super hati-hati mengajak menyelam wartawan nekat ini. Meski begitu, akhirnya Wita mampu juga mengajak wartawan ini menyelam sekitar lima menit.
Lalu kembali Mas Herdjoko ini mengulang keberaniannya pada penyelaman hari ketiga. Hari kedua ia manfaatkan hanya untuk bertanya segala macam soal penyelaman sambil melihat para penyelam melakukan reefcheck. Pada hari ketiga ia lumayan berhasil karena bisa menyelam dengan waktu lebih lama dan ia bisa melakukan equalizing.
== Temukan Metode Termudah ==
Kemudian ketika bulan Mei 2008 ada sertifikasi untuk menyelam. Mas Herdjoko ini ikut sertifikasi bersama Mas Heru dari Kompas. Dua wartawan ini bersama dua wartawan Cakra TV ikut reefcheck tahun 2007. Mereka lulus untuk sertifikasi Star 1. Lalu karena Mas Heru pindah tugas ke Solo, jadilah sobat MDC tinggal Mas Herdjoko bersama dua wartawan Cakra TV. Namun dua wartawan televisi itu belum bergabung untuk bisa menjadi penyelam.
Beberapa kali awak MDC bertemu Mas Herdjoko. Si nekat ini sering bilang kepada kami, bahkan berusaha meyakinkan bahwa untuk menjadi penyelam, tidak perlu kemampuan berenang yang tinggi. “Yang penting adalah meyakinkan pemula itu bahwa menyelam itu mengasyikkan dan aman. Saya telah bisa melatih orang awam yang sebelumnya tidak bisa berenang sama sekali, hanya dalam tempo satu jam sudah bisa berenang. Mampu berenang sepanjang kolam renang ukuran standar itu. Namun mereka harus menggunakan fin dan masker serta snorkel. Saya telah berhasil melatih keponakan, adik, dan juga kakak perempuan yang berusia 46 tahun,” katanya.
Antara ragu, tidak percaya, dan sedikit percaya, kami dari MDC hanya bisa mendengar saja. Maklum, dia belum pernah menunjukkan hasil metode cepatnya itu kepada kami. Akan tetapi tantangan dari si nekat ini begitu kuat. Ia mau mengajak rekan-rekan wartawan lainnya untuk latihan menyelam. Ia memberi semangat kepada kami agar mampu mengajari mereka menyelam dalam satu hari. Sehari bisa berenang dan menyelam.
“Kami akhirnya setuju. Kami berm
usyawarah dulu bersama semua anggota MDC. Ide gila ini merupakan tantangan yang harus dibuktikan kebenarannya. Sepertinya cerita wartawan nekad yang gila menyelam ini tidak berbohong,” kata Huda.
Ide itu pun kami sampaikan kepada Pak Dr. Ir. Munasik MSc, dosen dan pelindung MDC. Beliau setuju dan ingin melihat juga pelaksanaannya dan sekaligus memberikan materi akademis penyelamanya.”Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan, karena kita ingin sekali memasyarakatkan dunia selam di seluruh indonesia dan dimulai dari lingkup yang kecil seperti ini” jelas beliau. Kemudian sebelum turun menyelam, pertama tama diawali dengan pemberian teori selam yang dilaksanakan di darat. Dan ternyata semuanya berjalan lancar.
Mbak Lina, Mbak Fiska, Mas Hari, dan Iyan, ternyata memang perenang pemula yang belum bisa berenang secara benar. Akan tetapi ketika kami awak MDC mengajari mereka mengenakan masker, snorkel, dan bagaimana mengayuh menggunakan fin, mereka bisa memahami dan melaksanakan dengan cepat. Sekali lagi, ini benar-benar luar biasa.
Kami akhirnya memahami ide gila dari wartawan nekat itu. Satu pelatih mengajari satu murid. Pelatih bertanggungjawab penuh terhadap proses pemberian ilmu renang dan selam sekaligus keselamatan si murid.
“Ini baru pertama kali kami lakukan. Mengajari mahasiswa saja kami kesulitan. Lha kok ini mengajari orang-orang tua malah mudah. Mereka bisa menyelam di kedalaman dua meter,” kata Diko, awak MDC lainnya.
Apa kata para penyelam pemula yang baru saja “lulus” itu?
“Wahh… top. Akhirnya bisa menyelam d
an butuh belajar hanya sehari. Saya harus terus belajar. Saya tahu ini hanya teknik penyelaman sangat dasar.. Tapi saya sudah mendapatkan keasyikan menyelam itu. Saya harus dapat ilmu menyelam ini. Dengan begitu bila saya mendapat tugas liputan di laut, hal itu bukan barang baru lagi,” kata Mas Hari.
Lain lagi dengan Mbak Lina. Wartawati Bisnis Indonesia ini seolah tidak mengenal lelah. Ia berulang kali berenang menggunakan fin dan snorkel melahap panjang kolam renang. “Kenapa tidak dari dulu saya belajar seperti ini.. Kalau ke Karimunjawa saya diajak lho,” tuturnya.
Demikian pula dengan Mbak Fiska dan Iyan. Mereka berdua sudah merasa bahwa air menjadi dunia kedua. Sementara Mas Herdjoko yang merasa menjadi motivator rekan-rekannya selalu menunggui empat sekawan ini menyelam. Tiga anaknya yang masih duduk di bangku SD pun diajak serta. Mereka ini ternyata juga telah bisa menyelam.
Akhirnya kami di MDC berani menyimpulkan bahwa untuk bisa menyelam yang paling utama adalah Keberanian dan Usaha. Bila berkeberanian dan usaha besar, semua teknik penyelaman bisa dilaksanakan dengan baik dan aman. Dan itu sudah dibuktikan oleh empat wartawan nekat itu.
Mungkin bila ada pemecahan rekor belajar selam, maka MDC telah berhasil memecahkan rekor mengajari menyelam hanya dalam waktu kurang dari sehari!!! (*)
Berikut Foto fotonya:







Terimakasih
buat para senior dan masyarakat atas apresiasi juga dorongan semangat dari kegiatan ini.
semoga inovasi kedepan tiada henti…
By: Marine Diving Club on March 30, 2009
at 10:25 am
satu kata untuk kalian…Lanjutkan!!
By: Jensi on March 30, 2009
at 8:43 am
itu yg namanya inovasi
By: ataplaut on March 29, 2009
at 12:40 pm
ya….ini merupakan langkah awal untuk mengenalkan dunia selam ke khalayak umum….dan di harapkan ini dapat dikembangkan juga seterusnya….
By: andre mdc13 on March 27, 2009
at 12:05 am
Keep going forward guys! Great job!
By: candhika on March 26, 2009
at 6:58 pm
itu langkah ide dan aplikasi yang jenius…
MDC mulai memasyarakatkan dunia bawah air
By: Gendutz on March 26, 2009
at 6:57 pm
hahahaha…
btul tu aku saksi hidup pemecahan rekor tersebut,
seklikus yang ikut ngelatih.
hehehehe
cayoo MDC
bbtx_202
By: Benni Leo Simanjuntak on March 26, 2009
at 1:08 am
keren…. kl bisa teruskan pecahkan rekor yang laen… misalnya fin swimming lintas selat sunda ato selat bali…
By: popo on March 25, 2009
at 8:15 pm
istimewa….
ki cen top markotop…
ra salah kalian mlebu MDC…
By: aree on March 25, 2009
at 6:36 pm
Two Thumbs Up to MDC.. .. .
Berarti MDC yang melatih Selam Para Wartawan ya..??
Sekalian ada Rekor Pelatihan “Jurnalistik Sehari Langsung Bisa” ya ?? ?? Hehehe
Waspada Dira … (Anuraga)
By: prabuning derta on March 25, 2009
at 12:59 pm