Darmaga, Bogor.- Workshop pengembangan selam ilmiah (Scientific Diving) di Indonesia berlangsung dua hari, 6-7 mei 2008 di Kampus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan(FPIK) Institut Pertanian Bogor, Darmaga Kab. Bogor bertujuan untuk mencari kemungkinan dalam mengembangkan sistem pendidikan Scientific Diving di Indonesia, terutama berkaitan dengan dengan standar sertifikasi Internasional. Dr. Indra Jaya, Dekan FPIK IPB Bogor pada pidato pembukaan acara tersebut menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kenyataaan bahwa penelitian bawah laut telah banyak dilakukan di perairan Indonesia namun belum ada institusi pendidikan/pelatihan yang berwenang mengeluarkan sertifikat Scientific Diving yang dapat diakui secara Internasional beserta ukuran kemampuan dasar penyelam dan keselamatan sebagai Scientific Diver. The European Scientific Diving Education and Certification System telah menawarkan kerjasama pengembangan prosedur standard Scientific Diving di Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Komisi Nasional Scientific Diving, Jerman dan perwakilan dari institusi yang banyak berkecimpung dalam penelitian bawah laut, yaitu institusi universitas (IPB, UNDIP, UNRI, UNHAS, UNSOED, UNIBRAW, UNHALU dan UNPATTI), LSM (TNC, WWF dan TERANGI) dan Pengurus Pusat POSSI (Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia).
Kegiatan penyelaman ilmiah telah dilakukan peneliti di Indonesia sejak tahun 1960-an yang ditandai berdirinya Fakultas Perikanan di IPB Bogor, demikian uraian Prof. Dr. Deddy Soedharma dalam mengawali paparan keadaan klub selam di universitas-universitas di Indonesia. Dalam pandangannya, proyek pendidikan ilmu kelautan pada tahun 1980-an telah mendorong terbentuknya beberapa klub selam di lingkungan universitas, terutama pada universitas yang telah mempunyai program studi Perikanan atau Ilmu Kelautan. Namun dari beberapa klub selam tersebut yang tercatat memiliki kegiatan penyelaman ilmiah yang cukup padat dan rutin adalah FDC (Fisheries Diving Club) IPB dan MDC (Marine Diving Club) UNDIP. Kedua klub telah memiliki jadual kegiatan rutin penyelaman ilmiah yaitu ekspedisi ilmiah dan reef check. Kegiatan penyelaman ilmiah oleh klub selam umumnya dilakukan dalam bidang kelimuan Marine Ecology, Marine Biology dan Oceanography. Sementara itu Prof. Dr. Suharsono Ketua Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menegaskan bahwa penyelaman ilmiah telah dilakukan di Indonesia terutama untuk kegiatan penilaian status sumberdaya kelautan, pengumpulan sampel biota, fotografi bawah laut dan pengeboran bawah laut. Pihaknya telah melakukan pelatihan selam dan metodologi penilaian kondisi terumbu karang pada tahun 1990-an, namun penyelam hanya memperoleh sertifikasi selam saja. Karena menurutnya ketrampilan selam dasar sangat menentukan keberhasilan penelitian bawah air, yaitu penyelam harus memiliki kemampuan mengelola daya apung dengan baik, tenang, teliti, mengerti batas waktu kedalaman, mengkonsumsi udara secara efisien, mampu menangani peralatan, mengenal kondisi wilayah perairan dengan baik termasuk pola arus dan pasang surut, mengetahui orientasi bawah air, serta kemampuan mengenal biota beracun dan biota berbahaya.
Sertifikasi selam ilmiah (Scientific Diving) di POSSI (Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia) sampai kini belum dapat dilakukan. Hal ini diakibatkan oleh karena untuk mendapatkan sertifikat itu penyelam disyaratkan bersertifikat POSSI lebih dulu sementara penyelam yang bekerja di universitas, lembaga penelitian dan LSM sudah otomatis melakukan penyelaman ilmiah, demikian papar Dr. Budhi H Iskandar Instruktur selam POSSI. Sebenarnya di dalam kelengkapan CMAS (Confederation Mondiale des Activites Subaquatiques) telah ada Scientific Commitee yang memberikan brevet kepada penyelam 1 Star untuk mendapatkan keahlian khusus atas beberapa disiplin ilmu, seperti Marine Biology, Oceanology, Archaelogy dll. dengan menempuh pendidikan keahlian khusus tersebut. Semua pemakalah dari Indonesia sepakat bahwa kegiatan selam ilmiah telah ada di Indonesia, namun sertifikasi selam ilmiah serta sistem pendidikan selam ilmiah di Indonesia belum terwujud.
Scientific Diving menurut Komisi Nasional Scientific Diving (KFT) Jerman Dr. Phillip Fischer adalah segala aktivitas penyelaman ilmiah yang memerlukan keahlian, termasuk penyelaman jurnalistik. Bidang studi yang tercakup di dalamnya adalah Biologi (Biologi Kelautan, Limnologi dan Oseanografi), Arkeologi, Geologi, Pekerjaan Teknik Bawah Air (pemipaan, kabel bawah laut, dll) serta Jurnalistik ilmiah. Komisi ini berwenang mengeluarkan standar kualifikasi Scientific Diving di Jerman. Seorang penyelam yang menginginkan sertifikat Scientific Diving harus menjalani pendidikan di Training Center for Scientific Diving yang terdapat di beberapa universitas di Jerman seperti di Universitas Rostok, Univ. Kiel, Univ. Hamburg, dll. Tingkatan sertifikasi dibagi menjadi tiga, yaitu penyelam riset (Certified Research Divers), supervisor penyelam ilmiah (Supervisor for Scientific Divers), Instruktur penyelam ilmiah (Scientific Diver Instructor). Untuk menjadi peserta program pendidikan Scientific Diving penyelam telah memiliki sertifikat 2 star dengan pengalaman penyelaman 30 jam. Pendidikan penyelam ilmiah ini membutuhkan waktu 2X4 minggu, yaitu tingkat 1 dan 2 masing-masing membutuhkan waktu 4 minggu waktu pendidikan dan latihan. Pelajaran di tingkat 1 berupa teori dasar selam dan ketrampilan selam dasar serta penanganan pertolongan pertama pada kecelakaan sedangkan pada tingkat 2 telah diajarkan ketrampilan selam untuk pekerjaan bawah air, penggunaan peralatan riset bawah air dan prosedur penelitiannya, juga materi perencanaan dan pengorganisasian proyek riset bawah air disamping pelajaran penanganan pertolongan pertama kecelakaan.
Pada bagian lain, Dr. Marteen Mainberger wakil Komisi Arkeologi Bawah Air Jerman menjelaskan prosedur organisasi proyek penyelaman ilmiah. Pekerjaan penyelaman ilmiah diawali dari lembaga universitas yang memberikan informasi dasar mengenai kondisi lokasi penyelaman (status wilayah perairan, kondisi hidro-oseanografi dan kemudahan akses) dan analisis resiko yang diamanatkan melalui Diving Supervisor. Menurutnya tim penyelaman ilmiah terdiri dari Supervisor, Tender, Stand by Diver dan Diver. Supervisor adalah scientific diver yang tersertifikasi dengan pengalaman setara dengan 100 jam penyelaman, seorang yang ahli dalam bidang studi yang terkait dengan proyek dan sebagai perwakilan dari universitas.
Workshop pengembangan Scientific Diving di Indonesia menghasilkan jalan menuju (road map) perintisan Komisi Scientific Diving beserta sertifikasinya. Kegiatan ini juga merekomendasikan untuk membentuk kelompok kerja yang membahas draft kurikulum pendidikan selam ilmiah dengan mengadopsi prosedur standard Komisi Nasional Scientific Diving (KFT) Jerman dan masyarakat Eropa beserta penerapannya dalam penyelenggaraan proyek riset di Indonesia. Hasil penerapannya akan dievaluasi pada pertemuan mendatang melalui workshop kedua pada tahun mendatang, 2009. Melalui rangkaian kegiatan tersebut diharapkan akan terbentuk suatu komisi/institusi yang berwenang untuk menyelenggarakan pendidikan Scientific Diving di Indonesia yang dapat diakui oleh komisi eropa/internasional. Kedua pihak (Jerman-Indonesia) juga menghendaki kerjasama dalam kegiatan pengembangan Scientific Diving di Indonesia. (Munasik*)
*Munasik
(Dive Master 0206.DM)
Pengajar Selam
Pada Jurusan Ilmu Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Diponegoro



ok thx tapi kok belum nerima ya….
bro itu sertifiksi A1 juga termasuk pelatihan dan alatnya kan?
By: aji on March 29, 2009
at 9:57 pm
buat anisa joenoes:Untuk sertifikasi di UNDIP akan diadakan pada tahun ini, tepatnya tanggal 4 mei 2009, untuk hargannya mungkin nanti kita langsung kirim ke email mbak saja, atau untuk lebih lengkapnya dapat di hubungi
Beni HP:085270055377
By: Marine Diving Club on March 25, 2009
at 12:00 pm
Buat mas aji: ia mas untuk sertifikasi selammnya rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 4-10 mei 2009. Untuk harganya nati kita langsung kirim ke email mas saja..kegiatannya di semarang dan jepara.
mungkin kalau ada temen temen yang berminat lainnya tolong dikabari ya mas…
CP Beni:Hp: 085270055377
By: Marine Diving Club on March 25, 2009
at 11:57 am
mas ada ga sertifikasi buat tahun 2009 denger2 ada bulan april….
kalo ikutan berapa ya?
jakarta ada ga?
thx
By: aji on March 24, 2009
at 3:23 pm
Salam,
Mungkin ada yang bisa dishare mengenai apa saja prinsip-prinsip SD ini dalam bentuk buku/jurnal atau sejenisnya ? thx
Syahrir
By: syahrir on March 24, 2009
at 9:44 am
salam kenal pak mun..
saia dari oseanografi ITB, mau nanya, kalo sertifikasi di undip harganya berapa ya pak?
saia mau ikut sertifikasi A1, tapi yang murah2 aja..
hehhehe,,,
terimakasih pak..
By: annisa joenoes on February 20, 2009
at 8:18 am
gooooddddddd……
slm bwt nyit2 fakultas perikanan *andiko deandika*
By: hamzter on August 29, 2008
at 1:59 pm
Setuju Pak Mun.. penyelam memang perlu dilegalisasi keahliannya.. tapi sertifikat nantinya janganlah jadi “bumerang”. Alangkah baiknya sertifikat tersebut menggambarkan kemampuan sebenarnya dari penyelam. Kan ga lucu kalo punya sertifikat A2 atau A3 tapi kemampuannya masih A1.
Tapi juga kurang diakui walaupun kemampuannya A3 tapi sertifikatnya masih A1. Makanya alangkah baiknya apabila sertifikat dapat menggambarkan kemampuan sebenarnya dari pemiliknya.
Sukses terus Pak Mun..
By: Marine Diving Club on May 14, 2008
at 10:07 am
Hallo Yoga, apa khabar.
Tenang aja…. kita-kita juga belum menyiapkan sertifikatnya kok. Siapa yang bakal mengeluarkan, lalu ketrampilan dasar yang dibutuhkan apa saja? Semuanya masih digodog oleh tim kerja peserta workshop, timnya aja belum kontak-kontakan.
Tetapi, ini harus direspon positif bagi para penyelam untuk legalisasi keahliannya, iya nggak….
By: pak mun on May 14, 2008
at 9:56 am
ada juga ya akhirnya selam yang selama ini sering dilakukan MDC mempunyai sertifikasi dan standar sendiri.
Untuk kedepannya output bagi pemegang sertifikasi diving ilmiah tersebut didunia kerja nantinya bagaimana ya?
apakah instansi ataw perusahaan tersebut akan menaikan standar kualifikasi (sertifikat diving ilmiah) dari pegawainya atau bgm
By: yoga on May 14, 2008
at 9:04 am